Begini Penjelasan Hukum Masturbasi/ Onani Menurut Islam

Hukum Onani atau Masturbasi dalam Islam, Seperti Apa?

Beberapa orang mungkin tahu kalau sering melakukan onani atau masturbasi itu tidak baik untuk kesehatan. Misalnya aja bisa berdampak kepada fisik, psikis dan lainnya. Lalu banyak orang juga yang bertanya-tanya masurbasi ini boleh dilakukan atau tidak sesuai hukum masturbasi dalam islam. Menurut NU atau Nahdlatul Ulama, masturbasi ini dikenal istilah istimna’, untuk bahasa Arabnya.

Definisi masturbasi tersebut yaitu mengeluarkan mani tanpa melakukan senggama. Jika dalam bahasa yang sehari-hari, untuk laki-laki lebih dikenal dengan istilah “onani”, sedangkan untuk perempuan lebih dikenal dengan “masturbasi”. Dari keduanya ini sama-sama dilakukan dengan sendirian. Masturbasi ini merupakan tindakan yang bisa memuaskan syahwat dengan cara merangsang kelamin sendiri. Lalu menurut penelitian dari ahli seksologi, praktik masturbasi lebih sering dilakukan laki-laki, dibandingkan dengan perempuan.

Masturbasi Yang Tidak Diperbolehkan

Masturbasi merupakan perbuatan tidak baik dan juga termasuk dosa yang besar karena adanya syara’. Rasul juga memperingatkan dampaknya kepada penyakit-penyakit tubuh jika melakukan masturbasi. Dijelaskan pula, pada masa hari kiamat, bagi orang yang melakukannya, maka tangannya pada keadaan yang hamil jadi diibaratkan tangannya tersebut terjima’ ketika orang tersebut belum taubat dari dosanya. Mereka yang melampaui batasan anjuran tersebut dimaksudkan orang zholim dan juga berlebih-lebihan. Allah SWT mengharamkan orang yang bercumbu tetapi selain pada isteri atau suaminya. Kalau seseorang melakukan masturbasi hanya membangkitkan syahwat saja, maka hukum masturbasi tersebut dalam Islam yaitu secara umum adalah haram.

Masturbasi Yang Diperbolehkan

Ada pun kesimpulan yang didapat dari QS Al Ma’arij 29-31 di mana orang-orang yang bisa memelihara kemaluannya, kecuali ke isteri-isteri atau budak-budak, sesungguhnya tak tercela.  Alasan hukum masturbasi pada ajaran Islam itu menjadi haram, yaitu karena kegiatan masturbasi ini bisa mendorong seseorang melakukan hubungan yang bersifat seksual selanjutnya. Dari hal tersebut yang dicegah pada ajaran Islam.

Tetapi jika masturbasi atau onani dilakukan untuk keperluan menekan syahwat serta takut terjerumus zina, hukum masturbasi bisa saja boleh jika secara umum. Bukan hanya itu saja, bahkan terdapat juga pendapat yang mengatakan kalau masturbasi ini wajib seputar pencegahan zina tersebut. Jadi sudah bukan lagi masturbasi menjadi haram saja. Karena ada kondisinya melakukan yang hal terlarang pada saat darurat itu boleh. Lebih tepatnya yaitu  mengerjakan tindakan lain dengan mudharat yang ringan dari pada tindakan satunya.

Mayoritas ulama telah menilai bolehnya melakukan onani jika mereka yang melakukan yaitu pasangannya baik itu suami atau istrinya. Hal ini diperbolehkan selama tak dilakukan pada suatu kondisi yang terlarang yaitu misal seperti ketika sedang puasa, i’tikaf, berihram dan lainnya.

Pendapat Yang Mengatakan Masturbasi Bisa Termasuk Makruh

Ada juga ulama yang mengatakan masturbasi dari istri atau pasangan itu dinilai makruh. Pada Nihayah Az Zain & Fatawa Al Qodi menyebutkan seandainya istri memainkan kemaluan suaminya dengan memakai tangan, maka hukumnya makruh, meski suami telah mengizinkan serta keluar mani. Hal seperti ini menyerupai ‘azl yaitu menumpahkan mani tetapi tidak di dalam kemaluan istri. Sementara perbuatan ‘azl ini sendiri dinilai sebagai makruh. Ada pun Mazhab Imam Syafi’I yang menjelaskan tidak boleh masturbasi meski khawatir terjadinya perbuatan zina. Beda dengan pendapat Imam Ahmad yaitu memperbolehkan melakukan masturbasi sebagai alternatif untuk menghindari zina. Itu saja ulasan kali ini dan semoga bisa bermanfaat untuk anda semuanya.